(Laudatoi-bogor.org) – Seksi Ekologi Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) di Kota Wisata, Keuskupan Bogor, pada hari Sabtu, 23 Mei 2026 mengadakan rekoleksi ekologis dengan tema “Mewujudkan Iman Melalui Pertobatan Ekologis”, bekerjasama dengan Laudato Si Chapter Bogor.
Rekoleksi Ekologis ini menghadirkan beberapa pembicara utama, yaitu Ibu Muji Lestari, ST, M.T dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor; RD. S. Ferry Sutrisna W, pendiri dan pengelola Eco-Camp Bandung; serta Ibu Wilma Chrysanti, Co-founder Labtanya dan perwakilan dari tim Laudato Si Chapter Bogor.
Rekoleksi yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB di GSG Lantai 2 ini dihadiri sekitar 80 peserta, yang berasal dari Paroki MBSB maupun paroki-paroki lain di Dekanat Timur. RD. Bonifasius Heribertus Beke, Pastor Paroki MBSB sekaligus Ketua Komisi Ekologi Keuskupan Bogor, membuka acara rekoleksi tersebut dan mengajak para peserta untuk mengikuti kegiatan dengan penuh semangat.

Ibu Muji Lestari, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kemitraan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, memaparkan dampak serius sampah terhadap lingkungan dan kualitas hidup manusia.
Ia menyoroti pola hidup konsumtif masyarakat yang menyebabkan meningkatnya sampah, baik sampah organik maupun non-organik. Akibatnya, tempat pemrosesan akhir (TPA) menjadi penuh.
Melalui rekoleksi ini, Ibu Muji berharap umat semakin teredukasi untuk bijak menjadi konsumen yang mampu meminimalkan produksi sampah sekaligus belajar mengelolanya.
Ibu Muji mengangkat realitas sulitnya pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor saat ini, termasuk kondisi TPA Leuwiliang yang sudah kelebihan kapasitas sehingga tidak lagi mampu menampung volume sampah. Menurutnya, Kabupaten Bogor menghasilkan sekitar 3,000 ton sampah per hari yang diangkut menggunakan kurang lebih 250 truk. Sayangnya, hanya 30 persen dari jumlah total sampah tersebut yang berhasil terangkut. Situasi ini berkontribusi pada pemanasan global akibat kurang optimalnya pengelolaan sampah.
Sebagai solusi, pemerintah Kabupaten Bogor giat menjalankan sejumlah program lingkungan, salah satunya adalah Kampung Ramah Lingkungan (KRL). Program ini bertujuan untuk mendukung masyarakat agar dapat mengelola sampah secara mandiri sehingga mengurangi ketergantungan pada TPA. Upaya tersebut juga didukung ajakan untuk mengimplementasikan prinsip 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle.
Antusiasme tinggi tampak jelas selama sesi rekoleksi berlangsung. Para peserta mengikuti dengan perhatian penuh materi yang disampaikan oleh Ibu Muji Lestari, RD. S. Ferry Sutrisna W, dan Ibu Wilma Chrysanti.
Dalam presentasinya, Romo Ferry mendorong semua peserta untuk melakukan pertobatan ekologis melalui aksi nyata, baik secara individu maupun kolektif di lingkungan masing-masing. Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah sederhana namun konsisten dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pelestarian lingkungan.
Galeri Foto kegiatan:
(*)





























Tinggalkan Balasan