Penanaman Bibit Mangrove – Kegiatan penamanan bibit Mangrove di pantai Pasir Sakti, Lampung tanggal 25 Juli 2026. Sr. Vincentia, seorang pegiat Laudato Si yang berdomisili di Lampung, mengatakan kegiatan penanaman mangrove merupakan kegiatan lintas organisasi dan sekolah serta kampus. Mereka yang terlibat adalah umat Bakauheni 15 orang, umat Sribawono 20 orang, Kampus Gentiaras 10 orang, mahasiswa Kalimantan yang studi di Jogyakarta 9 orang dan Binus 4 orang. (kredit foto: Sr. Vincentia)
(Laudatosi-bogor.org) – Setiap tanggal 26 Juli, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia. Bagi Indonesia, tanggal ini lebih dari sekadar perayaan; ini adalah panggilan bagi setiap umat manusia, termasuk umat Katolik, untuk menoleh ke pesisir, tempat akar-akar mangrove menjaga dan melindungi pesisir-pesisir pantai.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan mangrove terluas di Indonesia. Indonesia memiliki 3,3 juta hektar hutan mangrove, yang mencakup 20 persen dari total mangrove dunia. Sebagai negara dengan mangrove terluas, Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa luas saja tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah mangrove yang sehat, tumbuh bersama manusia, dan dirayakan sebagai warisan bersama tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi mendatang.
Benteng Alami yang Sering Dilupakan
Banyak orang baru menyadari pentingnya mangrove saat bencana datang. Saat abrasi menggerus rumah warga pesisir, saat banjir rob masuk sampai ke dapur, atau ketika tangkapan ikan menurun drastis, kita baru ingat bahwa mangrove sudah memainkan peran penting melindungi pesisir pantai. Namun, di beberapa tempat seperti di pesisir pantai utara Jawa Barat, hutan mangrove atau bakau dirusaki dan dikonversi menjadi lahan tambak. Akibatnya, pantai mengalami abrasi.
Fakta di lapangan mengajarkan kita bahwa mangrove memiliki peran penting. Berikut peran atau fungsi utama mangrove:
• Pelindung Pantai: Akar mangrove yang kuat bagaikan jaring raksasa dapat memecah energi gelombang, menahan lumpur, dan mencegah erosi. Penelitian menunjukkan bahwa 1 kilometer hutan mangrove yang sehat mampu mengurangi tinggi gelombang hingga 66%. Di tengah krisis iklim dan badai yang makin sering, mangrove menjadi tembok pertahanan paling murah dan efektif.
• Rumah Kehidupan Laut: Sebanyak 80% biota laut komersial di Indonesia—seperti udang, bandeng, kepiting bakau, dan kerang—hidup di ekosistem mangrove. Tanpa mangrove, rantai makanan laut terputus, nelayan kehilangan mata pencaharian, dan harga ikan di pasar melonjak.
• Penyerap Karbon Super (Blue Carbon): Lumpur di hutan mangrove mampu menyimpan karbon hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Menurut berbagai studi, satu hektar mangrove dapat menyimpan karbon 3 hingga 5 kali lebih banyak daripada hutan hujan tropis, menjadikannya penjaga ampuh dalam mendinginkan bumi.

Penanaman Bibit Mangrove – Kegiatan penamanan bibit Mangrove di pantai Pasir Sakti, Lampung tanggal 25 Juli 2026. (kredit foto: Sr. Vincentia)
‘Asuransi Bencana’ Murah
Dunia sedang menghitung kerugian akibat perubahan iklim. Banjir, kekeringan, gagal panen. Biaya kerugian akibat bencana alam tersebut bisa mencapai triliunan rupiah. Peneliti iklim senior BRIN, Dr. Daniel Murdiyarso, menyebut mangrove dapat berperan sebagai “asuransi iklim” atau asuransi bencana paling murah. Daniel mengatakan “Melindunginya adalah investasi paling murah untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Satu hektar mangrove bisa menyimpan karbon setara emisi 1 mobil selama 10 tahun. Merusaknya sama dengan membakar uang.”
Forum Forest and Climate Leaders’ Partnership/FCLP PBB juga menempatkan Indonesia sebagai pemimpin global restorasi mangrove. Sebanyak 43 negara anggota FCLP telah menaruh harapan besar kepada Indonesia. Mengapa? Karena banyak negara sudah kehilangan 50% mangrovenya untuk tambak dan industri. Indonesia diyakini belum terlambat untuk menyelamatkan hutan mangrove. Indonesia masih punya hutan bakau yang cukup luas. Ini tanggung jawab sekaligus peluang. Peluang untuk menunjukkan kepemimpinan dalam menjaga iklim dan mencegah bencana alam.
Laudato Si’ dan Ekologi Integral
Sebagai umat Katolik di Keuskupan Bogor, kita merayakan Hari Mangrove dengan kacamata iman. Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menulis, “Bumi adalah rumah bersama kita. Merusak lingkungan adalah dosa terhadap ciptaan Tuhan.” Karena itu, “kita dipanggil menjadi penjaga karya ciptaan.”
Paus memperkenalkan istilah “ekologi integral”. Artinya, masalah lingkungan tidak bisa dipisahkan dari masalah sosial dan kemiskinan. Saat mangrove rusak, yang pertama terdampak adalah nelayan miskin. Saat laut tercemar, anak-anak pesisir yang sakit. Karena itu, merawat mangrove bukan saja soal lingkungan. Ini juga menyangkut keadilan lingkungan, dan upaya membela kaum marginal. Ini juga berarti upaya menghormati titipan Tuhan.
Dalam tradisi Gereja, air dan pohon selalu memiliki makna spiritual. Kita dibaptis dengan air. Kita juga diperkenalkan dengan pohon kehidupan dalam Kitab Kejadian. Mangrove, dengan akarnya yang kuat menjembatani darat dan laut, mengingatkan kita: iman kita juga harus menjembatani doa dan aksi.
Tantangan Masih Besar
Kita juga menyadari menjaga dan merawat mangrove tidak mudah. Ada tantangan besar di depan mata, yakni terkikisnya luas hutan mangrove. Ini diakibatkan oleh, pertama, alih fungsi. Masih ada tekanan untuk mengubah hutan mangrove menjadi tambak, kawasan industri, dan pemukiman di berbagai wilayah di Indonesia.
Kedua, sampah plastik. Plastik menyumbat akar, membuat mangrove sulit bernapas. Ketiga, perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut dan perubahan pola hujan mengancam pertumbuhan mangrove berusia muda. Keempat, kurangnya data. Kita belum punya data lengkap tentang kondisi mangrove di setiap desa pesisir di seantero nusantara.Tantangan ini butuh jawaban bersama.
Merawat Mangrove Mulai dari Hulu
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pantai seperti di Bogor, laut mungkin terasa jauh. Namun, perlu diingat bahwa semua sungai besar di Jawa Barat—mulai dari Ciliwung, Cisadane, hingga Citarum—bermuara ke laut. Sampah yang kita buang di hulu pada akhirnya akan mampir ke akar mangrove di hilir.
Oleh karena itu, merawat mangrove sebenarnya dimulai dari kebiasaan kita menjaga kebersihan di rumah. Kita bisa memulai dari hulu, yakni mengurangi plastik sekali pakai; buang sampah pada tempatnya; tidak membuang minyak jelantah ke saluran air. Ingat, sungai di Bogor adalah urat nadi yang mengalir ke laut.
Galeri Foto Aksi Nyata
Berikut foto-foto dokumentasi kegiatan penamanan bibit Mangrove di pantai Pasir Sakti, Lampung tanggal 25 Juli 2026. Sr. Vincentia, seorang pegiat Laudato Si yang berdomisili di Lampung, mengatakan kegiatan penanaman mangrove merupakan kegiatan lintas organisasi dan sekolah serta kampus. Mereka yang terlibat adalah umat Bakauheni 15 orang, umat Sribawono 20 orang, Kampus Gentiaras 10 orang, mahasiswa Kalimantan yang studi di Jogyakarta 9 orang dan Binus 4 orang. (kredit foto: Sr. Vincentia)
Selamat Hari Mangrove Sedunia 2026
Mari rawat ciptaan, mari rawat sesama.
Oleh Roffie Kurniawan
Tim Redaksi laudatosi-bogor.org



















Tinggalkan Balasan