(Laudatosi-Bogor.org) – Sekitar 50 peserta dari berbagai paroki di Keuskupan Bogor, serta beberapa peserta dari luar keuskupan, mengikuti kegiatan Trekking dan Forest Immersion yang diadakan pada hari Sabtu, 26 September 2026. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Perayaan Season of Creation 2026 dengan tema Living Water atau Air Kehidupan, yang diselenggarakan oleh Laudato Si’ Chapter Bogor.
Trekking dimulai pukul 07.00 WIB dari Foothill Forest Resto & Cafe menuju Curug Cibingbing yang berlokasi di Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diawali dengan doa dan refleksi singkat untuk mengingatkan peserta bahwa trekking kali ini bukan sekadar berjalan di alam, melainkan juga mencoba menyatu dengan alam (immersion).
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Kelompok Durian, Kelompok Duku, dan Kelompok Mangga. Sepanjang jalur trekking dengan total jarak 4,6 km (satu arah), peserta berhenti di beberapa pos dan warung warga. Rombongan tiba di Curug Cibingbing antara pukul 09.00 hingga 09.30 WIB dengan menerapkan prinsip zero waste. Ada grup yang tiba lebih dahulu di curug, sementara yang lain tiba belakangan.
Sepanjang jalur trekking, para peserta dimanjakan dengan pemandangan alam pegunungan, persawahan, perkebunan warga, kebun kopi dan hutan tropis.
Setibanya di sana, peserta menjelajahi Curug Cibingbing yang saat itu dalam kondisi kering, kemudian melanjutkan dengan sesi refleksi bertema A Journey Toward Ecological Awareness yang dipandu oleh Ibu Astuty. Peserta diajak untuk hening dan merefleksikan apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan selama perjalanan. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama dan presentasi hasil refleksi tiap kelompok. Dalam sesi berbagi ini, peserta menyampaikan pengalaman indrawi mereka: melihat hamparan sawah, pepohonan, pancuran air, sungai yang mengering, dan pondok-pondok petani.
Mereka merasakan hembusan angin sejuk, mendengar kicau burung, bahkan suara burung elang di kejauhan. Refleksi ini menyadarkan peserta bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan berdampingan dengan makhluk lain.
Semua ciptaan memiliki hak untuk hidup. Peserta juga merefleksikan keprihatinan ekologis yang mereka temui: debit air curug yang mengering. Hal ini bukan hanya akibat El Nino, tetapi juga karena kerakusan manusia yang menebang pohon sembarangan dan membuang sampah, mengakibatkan bumi semakin panas, iklim dan musim tidak menentu, serta berdampak pada perubahan musim tanam petani, banjir, dan kekeringan.
Kegiatan Trekking dan Forest Immersion berlangsung lancar. Semoga trekking ini mengetuk hati para peserta untuk lebih dekat dengan bumi, mencintainya, dan terpanggil untuk merawatnya dengan cara masing-masing.
Dokumentasi foto-foto trekking:
Roffie Kurniawan















































Tinggalkan Balasan